Tuesday, June 11, 2013

BETON



TEORI UMUM BETON


A.        Pendahuluan
Teknologi Bahan Beton adalah lanjutan dari mata kuliah Teknologi Bahan, dimana Teknologi Bahan telah dibahas, jenis-jenis, sifat-sifat dan penggunaan bahan dalam kontruksi bangunan sedangkan pada bab ini khusus menjelaskan tentang defenisi beton, istilah dalam pengerjaan beton, kelas-kelas dan mutu beton serta bahan-bahan pembentuk beton.
Metode ini sangat penting karena berhubungan dengan berbagai kelas dan mutu beton, sehingga dengan selesainya mempelajari mata kuliah ini diharapkan dapat mengetahui bahan pembentuk beton dan istilah-istilah yang sering digunakan dalam pengerjaan beton.

B.     Penyajian
Pengantar :
Kekuatan, keawetan dan sifat-sifat beton yang lain sangat bergantung pada sifat-sifat bahan dasar beton yaitu : agregat halus, agregat kasar, semen serta air yang digunakan.
Dengan mengetahui sifat masing-masing bahan, maka kita dapat memilih bahan yang cocok untuk beton yang kita inginkan.

1.1.      Defenisi
Campuran semen, agregat halus, agregat kasar, air dengan atau tanpa bahan tambah dengan perbandingan tertentu.

1.2.      Istilah-Istilah Dalam Pengerjaan Beton
1.      Beton segar     : selama beton masih dapat dikerjakan.
2.      Beton hijau      : beton yang baru saja dituang dan segera dipadatkan.
3.      Beton mudah  : campuran beton dalam masa pencapaian kekerasannya, yaitu sampai 12 jam setelah selesai pengecoran.
4.      Beton stabil     : beton yang dapat mempertahankan keseragamannya (sesuai yang disyaratkan).
5.      Segregasi         : terjadi pemisahan butiran kasar dan halus dari suatu campuran beton.
Terjadinya segredasi akibat :
a.       Campuran yang encer
b.      Campuran yang kering
c.       Traksi halus kurang
d.      Adanya guncangan selama pengangkutan
e.       Pemadatan berlebihan
f.       Menuang dengan tinggi lebih dari 1,5 m
6.      Bleeding          : naiknya air ke cetakan atau mengalir keluar melalui sambungan-sambungan cetakan/acuan.
Penyebab terjadinya bleeding :
a.       Beton kurus (semennya sedikit)
b.      Campuran beton terlalu encer
c.       Pemadatan dengan alat penggetar berlebihan
d.      Rancangan campuran kurang baik
e.       Adanya penambahan pada saat pengecoran berlangsung

1.3.      Kelas-kelas Beton
1.      Beton kelas I :
Beton kelas I adalah beton untuk pekerjaan-pekerjaan non-struktural. Untuk pelaksanaanya tidak diperlukan keahlian khusus.
Pengawasan mutu hanya dibatasi pada pengawasan ringan terhadap mutu bahan-bahan, sedangkan terhadap kekuatan tekan tidak diisyaratkan pemerikasaan.
Mutu beton kelas I dinyatakan dengan Bo.

2.      Beton kelas II :
Beton kelas II adalah beton untuk pekerjaan struktural secara umum pelaksanaannya memerlukan keahlian yang cukup dan harus dilakukan dibawah pimpinan tenaga-tenaga ahli. Beton kelas II dapat dibagi dalam mutu-mutu standar : B1, K 125, K 175, dan K 225.
Pada mutu beton B1, pengawasan mutu hanya dibatasi pada pengawasan sedang terhadap mutu bahan-bahan, sedangkan terhadap kekuatan tekan tidak diisyaratkan pemeriksaan. Pada mutu K 125, K 175 dan K 225, pengawasan mutu terdiri dari pengawasan ketat terhadap mutu bahan-bahan dengan keharusan untuk memeriksa kekuatan tekan beton secara kontinu.

3.      Beton kelas III :
Beton kelas III adalah beton untuk pekerjaan struktural dimana dipakai mutu beton dengan kuat tekan karakteristik yang lebih tinggi dari K 225 kg/cm. Pengawasannya memerlukan keahlian khusus dan harus dilakukan dibawah pimpinan tenaga-tenaga ahli. Disyaratkan adanya laboratorium beton dengan peralatan yang lengkap yang dilayani oleh tenaga-tenaga ahli yang dapat melakukan pengawasan mutu beton secara kontinu.
Mutu beton kelas III dinyatakan dengan huruf K dengan angka belakangnya yang menyatakan karakteristik beton yang bersangkutan, atau fc.
1.4.      Mutu beton
1.      Mutu beton rendah : 10 < 20 Mpa atau K 125 < K 250 kg/cm
2.      Mutu sedang : 20 < 35 Mpa atau K 250 < K 400 kg/cm
3.      Mutu tinggi : f’ c > 35 Mpa atau K 400 keatas


No comments:

Post a Comment